MODEL
PEMBELAJARAN SIMULASI
O
L E H :
LA
ADI
FAKULTAS
TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
KENDARI
2015
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah,
Taufik dan Hidayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah model
pembelajaran simulasi ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana.
Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun
pedoman bagi pembaca dalam dunia pendidikan dalam profesi keguruan.
Harapan
saya semoga makalah model pembelajaran simulasi ini membantu menambah
pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki
bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Penyusunan
makalah model pembelajaran simulasi ini saya akui masih banyak kekurangan
karena pengalaman yang saya miliki sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan
kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun.
Kendari,
25 Juni 2015
Penyusun
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR ………………………………………………….………………….. …. i
DAFTAR
ISI ………………………………………………………………………..……… ….
ii
BAB
I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang Masalah …………………………………………………………..……...4
- Rumusan Masalah ……………………………………………………………..………….4
- Tujuan Masalah ….…………….…….………………………………………………..…..5
BAB
II
PEMBAHASAN
- Pengertian metode simulasi……..…………...…..………………………………………..6
- Prinsip prinsip simulasi ………...…………………….………..……….…………….…..7
- Tujuan metode simulasi ………………………… ………..……...……………………...8
- Kelebihan dan Kekurangan simulasi …..…………………………………………………9
- Bentuk bentuk simulasi ………………………………………………………………….10
- Kopentensi dasar topik simulasi ………………………………………………………...11
- Peran guru dalam metode simulasi ……………………………………………………...14
- Langkah langkah penggunaan metode simulasi ………………………………………...15
BAB
III
PENUTUP
KESIMPULAN
DAN SARAN……………………………………………..…………………22
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Pendidikan Agama Islam dalam
pelaksanaannya membutuhkan metode yang tepat untuk menghantarkan
kegiatan pendidikan ke arah tujuan yang dicita-citakan. Bahkan metode
sebagai seni dalam mentransfer ilmu pengetahuan kepada anak didik
dianggap lebih signifikan dibanding dengan materi itu sendiri. Sebuah filosofis
mengatakan bahwa “al-Thariqat Ahamm Min al-Maddah” (metode jauh lebih
penting dari materi) adalah sebuah realita bahwa cara penyampaian yang komunikatif
lebih disenangi anak didik walaupun sebenarnya materi yang disampaikan
tidak terlalu menarik. Sebaliknya, materi yang cukup baik, karena disampaikan
dengan cara yang kurang menarik maka materi itu sendiri kurang dapat dicerna
oleh anak didik. Oleh karena itu, penerapan metode yang tepat sangat
mempengaruhi pencapaian keberhasilan dalam proses pembelajaran. Misalnya
pembelajaran materi akhlak, karena akhlak tidak hanya bersifat intelektual
melainkan juga bersifat emosional.
Penggunaan metode yang tidak sesuai
dengan tujuan pengajaran akan menjadi kendala dalam mencapai tujuan yang telah
dirumuskan dalam kompetensi dasar. Cukup banyak bahan pelajaran yang terbuang
percuma hanya karena penggunaan metode menurut kehendak guru dan mengabaikan
kebutuhan siswa, fasilitas, serta situasi kelas.
Setelah kita baca sekilas pengertian
diatas dapat kita simpulkan pertanyaan yang sangat sederhana, yaitu:
B.
Rumusan Masalah
1. Apa pengertian metode simulasi dalam
pembelajaran PAI?
2. Bagaimana langkah-langkah
penerapannya?
3. Apa kelebihan dan kekurangan?
C.
Tujuan
1. Untuk mengetahui terhadap
Materi-materi apa yang bisa diterapkan metode simulasi? Jadi makalah ini
akan membahas tentang metode simulasi yang bertujuan agar metode simulasi
dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif dalam proses pembelajaran
BAB II
PEMBAHASAN
A. Model Pembelajaran Simulasi
1. Pengertian Metode Simulasi
Simulasi berasal dari kata simulate
yang artinya “berpura-pura atau berbuat seakan-akan”. Di dalam Kamus
Bahasa Inggris- Indonesia dinyatakan bahwa simulate adalah
“pekerjaan tiruan atau meniru, sedang simulate artinya menirukan,
pura-pura atau berbuat seolah-olah” Sebagai metode mengajar, simulasi dapat
diartikan “cara penyajian pengalaman belajar dengan menggunakan situasi tiruan
untuk memahami tentang konsep, prinsip, atau keterampilan tertentu”.
Menurut Udin Syaefudin Sa’ud,
simulasi dalam perspektif model pembelajaran adalah sebuah replikasi atau
visualisasi dari perilaku sebuah sistem, misalnya sebuah perencanaan
pendidikan, yang berjalan pada kurun waktu yang tertentu. Jadi dapat dikatakan
bahwa simulasi itu adalah sebuah model yang berisi seperangkat variabel yang
menampilkan ciri utama dari sistem kehidupan yang sebenarnya. Simulasi
memungkinkan keputusan-keputusan yang menentukan bagaimana ciri-ciri utama itu
bisa dimodifikasi secara nyata. Sementara menurut Sri Anitah, W. dkk,
metode simulasi merupakan salah satu metode pembelajaran yang dapat
digunakan dalam pembelajaran kelompok. Proses pembelajaran yang menggunakan
metode simulasi cenderung objeknya bukan benda atau kegiatan yang sebenarnya,
melainkan kegiatan mengajar yang bersifat pura-pura. Kegiatan simulasi dapat
dilakukan oleh siswa pada kelas tinggi di sekolah dasar.
Simulasi dapat digunakan sebagai
metode mengajar dengan asumsi tidak semua proses pembelajaran dapat dilakukan
secara langsung pada objek yang sebenarnya. Gladi resik merupakan salah satu
contoh simulasi, yakni memperagakan proses terjadinya suatu upacara tertentu
sebagai latihan untuk upacara sebenarnya supaya tidak gagal dalam waktunya
nanti. Jadi metode simulasi adalah peniruan atau perbuatan yang bersifat
menirukan suatu peristiwa seolah-olah seperti peristiwa yang sebenarnya.
Sebagai sebuah metode pembelajaran
yang bersifat peniruan suatu peristiwa, metode simulasi memiliki Karakteristik
yang mencerminkan metode ini berbeda dengan metode-metode lain, di antaranya:
1) Banyak digunakan pada pembelajaran
PKn, IPS, pendidikan agama dan pendidikan
apresiasi, 2) Pembinaan kemampuan bekerja sama, komunikasi, dan interaksi
merupakan bagian dari keterampilan yang akan dihasilkan melalui pembelajaran
simulasi; 3) Metode ini menuntut lebih banyak aktivitas siswa; 4) Dapat
digunakan dalam pembelajaran berbasis kontekstual; 5) bahan pembelajaran
dapat diangkat dari kehidupan sosial, nilai-nilai sosial, maupun
masalah-masalah sosial.
2.
Prinsip-prinsip Simulasi
Agar
Pemakaian simulasi dapat mencapai tujuan yang diharapkan, maka dalam
pelaksanaanya memperhatikan prinsi-prinsip sebagai berikut: 1) simulasi itu
dilakukan oleh kelompok peserta didik dan setiap kelompok mendapat kesempatan
untuk melaksanakan simulasi yang sama maupun berbeda; 2) semua peserta didik
harus dilibatkan sesuai peranannya; 3) penentuan topik dapat dibicarakan
bersama; 4) petunjuk simulasi terlebih dahulu disiapkan secara terperinci atau
secara garis besarnya, tergantung pada bentuk dan tujuan simulasi; 5)
dalam kegiatan simulasi hendaknya mencakup semua ranah pembelajaran; baik kognitif,
afektif maupun psikomotorik; 6) simulasi adalah latihan keterampilan agar dapat
menghadapi kenyataan dengan baik; 7) simulasi harus menggambarkan situasi
yang lengkap dan proses yang berurutan yang diperkiran terjadi dalam
situasi yang sesungguhnya; dan 8) hendaknya dapat diusahakan terintegrasinya
beberapa ilmu , terjadinya proses sebab akibat, pemecahan masalah dan
sebagainya
Prinsip-prinsip
tersebut harus menjadi acuan dalam pelaksanaan simulasi agar benar-benara
dapat dilakukan sesuai konsep simulasi dalam berbagai bentuknya. Prinsip ini
berlakuku dalam setiap mata pelajaran dan standar kompetensi yang sesuai dengan
prinsip-prinsip tersebut yang berhubungan dengan peristiwa nyata. Oleh
sebab itu untuk memilih materi atau topik mana yang akan digunakan dengan
metode simulasi sangat bergantung pada karakteristik dan prinsip-prinsip
simulasi dihubungkan dengan karakteristik mata pelajaran sebagaiman dijelaskan
di atas. Oleh sebab itu tidak semua mata pelajaran, kompetensi
dasar, indikator, dan topik pembelajaran berbagai mata pelajaran
dapat digunakan dengan simulasi. Disinilah pentingnya pemahaman dan
analisa guru tentang karakteristik dan prinsip metode simulasi dihubungkan
dengan karakteristik mata pelajaran setiap kompetensi dasarnya.
3.
Tujuan Metode Simulasi
Metode
simulasi bertujuan untuk: 1) Melatih
keterampilan tertentu baik bersifat profesional maupun bagi kehidupan
sehari-hari; 2) Memperoleh
pemahaman tentang suatu konsep atau prinsip; 3)
Melatih memecahkan masalah; 4)
Meningkatkan keaktifan belajar; 5) Memberikan motivasi
belajar kepada siswa; 6) Melatih
siswa untuk mengadakan kerjasama dalam situasi kelompok; 7)
Menumbuhkan daya kreatif siswa; dan 8)
Melatih Peserta didik untuk memahami dan menghargai pendapat
serta peranan orang lain
Dengan
demikian penggunaan metode simulasi dalam proses pembelajaran sesuai dengan
kecenderungan pembelajaran modern yang menuju kepada pembelajaran peserta didik
yang bersifat individu dan kelompok kecil, heuristik (mencari sendiri
perolehan) dan aktif. Sesuai dengan hal ini simulasi menurut Derick, U dan Mc
Aleese, R, bahwa simulasi memiliki tiga sifat utama yang dapat meningkatkan
keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran, yaitu: 1) Simulasi adalah
bentuk teknik mengajar yang berorientasi pada keaktifan pesrta didik dalam
pembelajaran di kelas, baik guru maupun peserta didik mengambil peran did
dalamnya; 2) Simulasi pada umumnya bersifat pemecahan masalah yang sangat
berguna untuk melatih peserta didik melakukan pendekatan interdisiplin di dalam
pembelajaran. Di samping itu dapat juga mempraktekkan keterampilan-keterampilan
sosial yang relevan dengan kehidupan masyarakat; 3) simulasi adalah model
pembelajaran yang bersifat dinamis dalam arti sangat sesuai untuk menghadapi
situasi-situasi yang berubah yang membutuhkan keluwesan dalam berpikir dan
memberikan jawaban terhadap keadaan yang cepat berubah.
4.
Kelebihan dan Kelemahan Metode Simulasi.
Terdapat
beberapa kelebihan dengan menggunakan simulasi sebagai metode mengajar, di
antaranya adalah: 1) Siswa dapat melakukan interaksi sosial dan komunikasi
dalam kelompoknya; 2) Aktivitas siswa cukup tinggi dalam pembelajaran
sehingga terlibat langsung dalam pembelajaran; 3) dapat membiasakan
siswa untuk memahami permasalahan sosial (merupakan implementasi pembelajaran
yang berbasis kontekstual); 4) Dapat membina hubungan personal yang
positif,5) Dapat membangkitkan imajinasi, Membina hubungan komunikatif
dan bekerja sama dalam kelompok.
6) menciptakan kegairahan peserta didik untuk belajar; 7) memupuk daya
cipta peserta didik; 8) dapat menjadi bekal bagi kehidupannya di masyarakat; 9)
mengurangi hal-hal yang bersifat abstrak dengan menampilkan kegiatan yang
nyata; 10) dapat ditemukan bakat-bakat baru dalam bermain atau beracting. Di samping memiliki kelebihan, simulasi
juga mempunyai kelemahan, di antaranya: 1) Relatif memerlukan waktu yang
cukup banyak; 2) Sangat bergantung pada aktivitas siswa; 3) Cenderung
memerlukan pemanfaatan sumber belajar; 4) Banyak siswa yang kurang menyenangi
sosiodrama sehingga sosiodrama tidak efektif.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa simulasi sekalipun banyak keunggulan
namun sebagai sebuah metode pembelajaran tetap memiliki kelemahan. Berbagai
kelebihan di atas perlu diketahui oleh seorang guru agar potensi yang ada dapat
dimaksimalkan, namun kelemahan bisa diatasi dengan berbagai cara agar
pembelajaran sesuai kondisi dan waktu yang telah disediakan.
5.
Bentuk-bentuk Simulasi.
Ditinjau
dari peran yang dibawakan atau dilakukan oleh peserta didik dalam pembelajaran,
menurut ramayulis, bentu-bentuk simulasi dapat dibedakan menjadi: 1) Pre-Teaching/Micro
Teaching; berguna untuk latihan mengajar oleh calon pendidik yang mana
peserta didiknya adalah teman-teman calon pendidik; 2) Sosiodrama;
permainan peranan yang diselenggarakan dimaksudkan untuk menentukan alternatif
pemecahan sosial; 3) Psikodrama; permainan peranan yang diselenggarakan
dimaksudkan agar individu yang bersangkutan memperoleh pemahaman yang lebih
tentang dirinya, penemuan konsep diri, reaksi terhadap tekanan yang menimpa
dirinya; 4) Simulasi game; adalah permainan peranan dimana para
pemainnya berkompetisi untuk mencapai tujuan tertentu dengan mentaati peraturan
yang di tetapkan; 5) Role Playing; permainan peranan yang
diselenggarakan untuk mengkreasi kembali peristiwa-peristiwa sejarah,
mengkreasi kemungkinan masa depan, mengekspos kejadian-kejadian masa kini dan
sebagainya.
Dilihat
dari keluasan pelaksanaan simulasi, menurut Abu Ahmadi dkk, simulasi dapat dilakukan
dari yang paling sederhana sampai kegiatan yang paling kompleks. Yang
sederhana, seperti tiruan perbuatan atau peranan anggota-anggota keluarga dalam
menghadapi suatu masalah atau tiruan kehidupan sehari-hari dalam kehidupan
masyarakat, seperti jual beli dipasar. Semntara tiruan yang agak lebih kompleks
dari itu adalah kejadian-kejadian dalam kehidupan masyarakat seperti, sidang
DPRD, Sidang PBB, perundingan diplomasi, atau kejadian-kejadian sejarah. Dapat
juga simulasi dilakukan dalam kegiatan yang lebih kompleks dari itu seperti,
simulasi latihan penerbangan pesawat terbang, astronot, awak kapal selam,
pemecahan masalah perusahaan dan sebagainya
6.
Beberapa Kompetensi Dasar PAI yang dapat dijadikan
Topik Simulasi
Sesuai
bentuk-bentuk simulasi di atas, setelah melakukan analisis terhadap Standar
Kompetensi Pendidikan Agama Islam yang terdapat dalam Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional no 22 tahun 2006 tentang Standar isi satuan
Pendidikan dasar dan menengah Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia no 2
tahun 2008 tentang standar kompetensi Lulusan dan Standar isi Pendidikan Agama
Islam dan bahasa Arab di Madrasah, maka ada beberapa indikator pendidikan agama
Islam yang dapat dicapai dengan metode simulasi, seperti terdapat SK/KD Sejarah
Kebudayaan Islam dan Aqidah Akhlak. Bebrapa contoh Kompetensi dasar PAI di
madrasah tsanawiyah adalah:
1.
Meneladani
semangat para tokoh yang berperan dalam perkembangan Islam di Indonesia
2.
Meneladani
sikap keperwiraan shalahuddin al-Ayyubi dalam kemajuan peradaban Islam pada
masa dinasti al-ayyubiyah
3.
Meneladani
ketekunan dan kegigihan bani Abbasiyah
4.
Meneladani
kesederhanaan dan keshalehan Umar bin abdul Aziz
5.
Meneladani
perjuangan nabi dan para sahabat dalam menghadapi masyarakat makkah
6.
Simulasi
penyelenggaraan jenazah
7.
Simulasi
tatacara pinjam meminjam, utang piutang, gadai, borg, serta pemberian upah
menurut Islam
8.
Simulasi
Pelaksanaan jual beli menurut Islam
9.
Simulasi
tata cara pelaksanaan qurban dan kekah
10.
Simulasi
pelaksanaan ibadah haji dan Umrah
11.
Simulasi
Pelaksanaan zakat fitrah dan zakat mal
12.
Simulasi
Perilaku kerja keras, kreatif dan produktif dalam kehidupan sehari-hari
13.
Sejarah
kebudayaan Islam
14.
Abrahah
yang sombong
15.
dll
Bebrapa contoh topik di atas menurut penulis dapat dilakukan dengan metode simulasi
dengan digabungkan dengan beberapa metode lain. Sehingga pembelajaran itu dapat
dilaksanakan oleh peserta didik sesuai dengan kehidupan nyata. Namun
tentu saja dalam pelaksanaannya perlu persiapan dan diskusi yang lebih mendalam
sesuai teori simulasi dan ruanglingkup topik yang akan di bahas.
Sebuah contoh sosiodrama yang masih ada hubungannya dengan sejarah Kebudayaan
Islam sebelum lahirnya nabi Muhammad SAW, tentang “Abrahah yang sombong” dapat
penulis kemukakan, sebagaimana yang ditulis oleh Munif Chatib: seorang peserta
didik yang ditunjuk menjadi host membacakan skenario berikut:
”
Matahari hampir terbenam, ketika kelelahan memuncak pada semua anggota pasukan
yang sudah berjalan berhari-hari. Ringkikan kuda yang ingin beristirahat,
lenguhan pasukan gajah yang mulai gelisah, ,membuat jendera Abrahah, pemimpin
pasukan itu, memutuskan untuk beristirahat dan bermalam di sebuah lembah di
padang pasir hijaz”.
Lalu
Abrahah memberi instruksi kepada pengawalnya;
“pengawal,
perintahkan kepada semua pasukan, untuk berhenti, kita akan membuka tenda dan
bermalam di sini. Amankan pasukan gajah kita yang mulai gelisah sebab
binatang-binatang itu kelak yang akan menghancurkan ka’bah. Esok pagi kita akan
melanjutkan perjalanan. Makkah sudah dekat, hanya tinggal setengah hari
perjalanan. Cepat pengawal, segera kerjakan.”
“baik paduka secepat kilat hamba laksanakan” jawab
pengawal sambil menundukkan kepala. Lalu: “Hai .. Abrahah! Majulah dengan
pasukan gajahmu itu, kami penduduk makkah yang mencintai ka’bah akan melawan
dengan pasukan-pasukan Allah” teriak peserta didik yang berperan sebagai
penduduk makkah ketika melakukan metode sosiodram yang merupakan bagian dari
bentuk simulasi. “interupsi, masak Abrahah ngomongnya pelan kayak putri
salju, semangat dong…kan dia jenderal besar!” interupsi dari salah satu
peserta didik yang menonton kala mendengar suara abrahah yang sangat pelan.
Interupsi ini diiringi derai tawa siswa seisi kelas, tercipta emosi positif
dalam kelas tersebut.
“Hei Abrahah.. ngapain sih pake pergi ke Makkah menghancurkan ka’bah?kenapa
sish tidak membangun ka’bah sendiri di Yaman sana?” tanya siswa penonton. “
ah, percuma… saya sudah coba berkali-kali, ..gagal terus. Habis di yaman sepi,
nggak ada orang datang, tidak seperti di Makkah yang selalu ramai didatangi
orang” sang Abrahah menjawab lantang.
Tokoh-tokoh dalam drama tersebut dimainkan oleh beberapa peserta didik dengan
redaksi skenario yang sudah disiapkan oleh guru. Ada yang menjadi Abrahah
gubernur Yaman yang berniat menghancurkan ka’bah. Abdul Muthalib, pemimpin
Makkah pada saat itu, ada juga kurir, pemuka-pemuka makkah lainnya. Kemudia
adalagi peran utama yang cukup penting dan berfungsi sebagai “Cutter” atau
pemutus cerita, biasanya disebut “Host” (pengantar cerita). Kepada beberapa
siswa yang tidak dapat peran, dibagaikan secarik kertas berisi pertanyaan dan
masalah yang terkait dengan materi perang gajah tersebut. sebagai penonton,
para siswa dapat menginterupsi saat drama berlangsung, baik untuk bertanya
maupun memberikan opini, persis seperti Lenong Betawi atau Opera Van
Java.
7.
Peranan Guru dalam Metode simulasi
Ada tiga peranan yang dapat dilakukan guru dalam memimpin dan mengelola
simulasi bagi pesrta didik, pertama, Menjelaskan (Explaining); peserta
didik sebagai pemegang peran perlu memahami garis besar berbagai aturan dari
kegiatan atau peralatan yang diperlukan, atau tentang implikasi dari setiap
tindakan yang ia lakukan. Dalam hal ini dapat menjelaskan sekedarnya kepada
peserta didik, pemahaman peserta didik terhadap pokok kegiatan simulasi serta
implikasi-implikasinya akan menjadi lebih jelas setelah pesrta didik
melakukannya sendiri atau setelah dilakukan diskusi. Kedua, mewasiti
(refereeing); guru harus membentuk kelompok-kelompok dan membagi peserta
didik dalam kelompok atau peran sesuai dengan kemampuan dan keinginan peserta
didik. Selain itu guru harus mengawasi partisipasi peserta didik dalam
permainan simulasi. Ketiga, melatih (Ciaching) guru juga harus
bertindak sebagai seorang pelatih yang memberikan petunjuk-petunjuk kepada
peserta didik agar mereka dapat berperan dengan baik. Keempat, memimpin
diskusi (discussing); selama permainan berlangsung guru akan memimpin
kelas dalam suasana diskusi, misalnya membicarakan tanggapan peserta didik dan
kesukaran yang dijumpai, cara-cara untuk menguji kebenaran permainan dan
bagaimana permainan simulasi itu dinyatakan dengan kehidupan yang sebenarnya
8.
Langkah-langkah Penggunaan Metode Simulasi
Pada
dasarnya Simulasi dilaksanakan oleh sekelompok peserta didik meskipun dalam
beberapa hal dapat dilakukan secara individu atau berpasangan. Bila dilakukan
secara kelompok kecil, tiap kelompok dapat melakukan simulasi yang sama atau
berbeda dengan kelompok lainnya. Oleh sebab itu dalam prinsip pelaksanaannya
harus terjadi proses kegiatan yang menghasilkan domain efektif, (seperti
menyenangkan, menggairahkan, suka, sedih, terharu, simpati, solidaritas, gotong
royong, dan sebagainya), psikomotor (misalnya, keterampilan berbicara,
bertanya, berdebat, mengemukakan pendapat, memimpin, mengorganisir, dan
sebagainya) dan kognif. (misalnya, memahami konsep-konsep tertentu, pengertian
teori dan sebagainya). Simulasi juga harus menggambarkan situasi yang lengkap
dan proses atau tahap dalam situasi tersebut. hubungan sebab akibat,
percobaan-percobaan, fakta-fakta dan pemecahan masalah
Oleh sebab itu perlu jelas langkah-langkah dalam pelaksanaan simulasi, yang
terdiri dari tahap awal, tahap pelaksanaan dan tahap penutup. Berikut
langkah-langkat tersebut:
a.
Tahap Awal Simulasi;
1)
Guru menetapkan topik atau masalah serta tujuan yang hendak
dicapai oleh simulasi.
2)
Guru memberikan gambaran masalah dalam situasi yang akan
disimulasikan.
3)
Guru membentuk kelompok dan menentukan alat yang digunakan.
4)
Guru menetapkan pemain yang akan terlibat dalam simulasi,
peranan yang harus dimainkan oleh para pemeran, serta waktu yang disediakan.
5)
Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya
khususnya pada siswa yang terlibat dalam pemeranan simulasi.
b.
Pelaksanaan Simulasi
1)
Simulasi mulai dimainkan oleh kelompok pemeran.
2)
Para siswa lainnya mengikuti dengan penuh perhatian.
3)
Guru hendaknya memberikan bantuan kepada pemeran yang
mendapat kesulitan.
4)
Simulasi hendaknya dihentikan pada saat puncak. Hal ini
dimaksudkan untuk mendorong siswa berpikir dalam menyelesaikan masalah yang
sedang disimulasikan.
c.
Penutup
1)
Guru dan siswa melakukan diskusi baik tentang jalannya
simulasi maupun materi cerita yang disimulasikan.Guru harus mendorong agar
siswa dapat memberikan kritik dan tanggapan terhadap proses pelaksanaan
simulasi.
Untuk terlaksananya tahapan kegiatan simulasi sebagimana yang diharapkan,
seorang guru perlu mengetahui sumber bahan, seperti buku pelajaran, surat
kabar, majalah, radio, televisi, problema-problema kehidupan sehari-hari di
sekolah, buku-buku khusus tentang simulasi dan alat-alat simulasi
seperti, gambar-gambar, foto, peta, maket, benda model, tirua alat, alat-alat
khusus sesuai dengan topik, perangkat keras, audio visual aids; radio, vidio,
tape, kaset, recorder, dan lain-lain.
d.
Manfaat Metode Simulasi
Simulasi dapat meningkatkan
motivasi dan perhatian peserta didik terhadap topik dan belajar peserta didik,
serta meningkatkan keterlibatan langsung dan partisipasi aktif peserta didik
dalam proses pembelajaran, Meningkatkan kemampuan siswa dalam belajar kognitif,
meliputi informasi faktual, konsep, prinsip dan keterampilan membuat keputusan.
Belajar siswa lebih bermakna.
Meningkatkan afektif atau sikap dan
persepsi anak terhadap isu yang berkembang di masyarakat. Meningkatkan sikap
empatik dan pemahaman adanya perbedaan antara dirinya dengan orang lain. Afeksi
umum anak meningkat, kesadaran diri dan pandangan terhadap orang lain lebih
efektif. Struktur kelas dan pola interaksi kelas berkembang, hubungan
guru—siswa hangat, mendorong kebebasan anak dalam mengeksplorasi gagasan, peran
guru minimal sedang otonomi anak meningkat, meningkatkan tukar pendapat dari
pandangan anak yang berbeda-beda.
Pengaruh pelaksanaan metode
simulasi terhadap ketercapaian kompetensi dasar mata pelajaran PAI. Seperti
yang telah dijelaskan bahwa metode simulasi adalah cara penyajian pengalaman
belajar dengan menggunakan situasi tiruan untuk memahami tentang konsep,
prinsip, atau ketrampilan tertentu. Pada pelajaran agama khususnya materi
akhlak simulasi dapat berupa sosiodrama, misalnya peniruan bagaimana sosok anak
yang saleh atau bagaimana kisah seorang penguasa/raja Fir’aun yang sombong dan
takabur, tentara Abraha menghancurkan ka’bah, dan lain sebagainya.
Sedangkan ketercapaian kompetensi dasar adalah suatu hasil yang diperoleh
berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai
hasil dari aktifitas dalam belajar mengajar khususnya pada materi akhlak, yaitu
berupa kemampuan peserta didik dalam berperilaku terpuji dan menjauhi perilaku
tercela. Dengan menggunakan metode simulasi maka proses belajar mengajar
semakin memudahkan peserta didik dalam belajar sehingga dapat meningkatkan
prestasi belajarnya. Selain itu dengan metode simulasi, peserta didik
tidak hanya memahami materi secara konsep saja, akan tetapi siswa
dituntut mampu messnampilkan konsep-konsep itu dalam bentuk tingkah laku,
sehingga materi yang disampaikan akan semakin jelas dan dapat menumbuhkan
motivasi belajar peserta didik
Karena pemahaman terhadap materi
akhlak tidak hanya bersifat intelektual melainkan juga bersifat
emosional. Menurut Vernon A. Magnesen menyatakan bahwa kita belajar dipengaruhi
oleh: 1) 10 % dari apa yang kita baca;
2) 20 % dari apa yang kita
dengar; 3) 30 % dari apa yang kita lihat; 4) 50 % dari apa yang kita lihat dan
dengar; 5) 70 % dari apa yang kita katakan.6) 90 % dari apa yang kita
katakan dan lakukan.
Sedangkan menurut Tony Stockweel
menyatakan bahwa untuk mempelajari sesuatu dengan cepat dan efektif, anda harus
melihatnya, mendengarnya, dan merasakannya Berdasarkan pendapat di atas, maka
dapat disimpulkan bahwa belajar akan lebih cepat dan efektif jika dalam belajar
siswa menggunakan penggabungan beberapa indera. Dalam metode simulasi siswa
menerima materi PAI melalui penggabungan beberapa indera diantaranya indera
penglihatan dan pendengaran. Selain itu dalam metode simulasi siswa dibiasakan
untuk bertindak sesuai keadaan yang sebenarnya sehingga diharapkan siswa
memiliki ketrampilan dalam menghadapi kehidupannya kelak. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa penerapan metode simulasi pada mata pelajaran Pendidikan
Agama Islam khususnya materi akhlak berpengaruh terhadap ketercapaian
kompetensi dasar karena akhlak tidak hanya bersifat intelektual melainkan juga
bersifat emosional.
Contoh Materi lain yang dapat
digunakan dengan metode Simulasi – sosiodrama- dalam mata pelajaran Sejarah
Kebudayaan Islam dapat dilihat Adegan tentang Perang Khandaq: dalam suatu
ruangan di Darul Nadwan, berkumpullah orang-orang musyrik, di antar mereka ada
Abu Syufian. Bersama mereka ada seorang pemimpin Yahudi Bani Nadhir yaitu Huyay
bin Akhtab dan beberapa orang Yahudi lainnya.
Abu Sufyan :
|
Wahai orang Quraisy, apakah kamu
telah mendengar berita yang disampaikan pemimpin Bani Nadhir yaitu Huyaybin
Akhtab, mengenai ancaman dan bahaya yang dihadapi oleh kaumnya
karena ulah Muhammad dan sahabat-sahabatnya? Beliau meminta
bantuan kalian , sebagaimana akan kalian dengar sendiri nanti.
Maksudnya tidak lain ialah untuk mengingatkan kalian terhadap
bahaya ancaman Muhammad dan sahabat-sahabatnya kepada
kalian. Nah ..silakan tuan Huyay ceritakan kepada mereka.
Katakanlah apa yang terkandung dalam hati anda.
|
Huyay
:
|
Saya ini bukanlah sendirian wahai
Abu Sufyan. Bersamaku ada sekelompok saudara-saudaraku yang sesuku. Ini
adalah Salmam Al-Nadhariy dan ini Kinanah bin Rabi’ dan itu Hudzah bin Qus.
Semua mereka itu akan menceritakan ancaman dan bahaya yang akan ditimpakan
oleh Muhammad kepada kami.
|
Sallam
:
|
: Anda sajalah yang menceritakan,
hai Huyay, karena Anda lebih pantas menerangkannya kepada orang-orang Quraisy.
|
Huyay
:
|
Wahai orang-orang Quraisy, kalian
adalah pemimpin dan panglima-panglima bangsa Arab. Tidaklah bijaksana
sedikitpun, bila kalian membiarkan bahaya Muhammad semakin memuncak dan
kekuatannya semakin mantab, sehaingga ia berani menyerang dan membunuhmu di
rumahmu sendiri.
|
Musyrik I
:
|
Saya sependapat dengan apa yang
dikemukakan pemimpin Bani Nadhir ini. Oleh karena itu pikirkanlah
sebaik-baikny tindakan apa yang harus di ambil. Saya sependapat dengan apa
yang dikemukakan pemimpin Bani Nadhir ini. Oleh karena itu pikirkanlah
sebaik-baikny tindakan apa yang harus di ambil.
|
Musyrik II :
|
Bagaimana pendapat Anda,
Huyay?
|
Huyay
:
|
Sikap saya sama dengan sikap-sikap
Anda. Saya hanya ingin agar kalian hidup dalam keadaan aman dan sejahtera.
Saya berharap agar kalian dapat mengambil inisiatif di kalangan
kabilah-kabilah Arab lainnya kami Bani Nadhir akan menanti di tangan
kaalian.
|
Kinanah bin
Rabi’ :
|
Benar demi Allah,memang mereka
lebih panas dari bara api. Mereka akan berada di samping kalian sampai mati
atau Muhammad dan pengikut-pengikutnya lenyap dari muka bumi.
|
Musyrik III :
|
Wahai Huyay, bagaimana pendapatmu,
apakah agama kami yang lebih baik atau agama Muhammad?
|
Huyay
:
|
Agamamu lebih baik dari pada agama
Muhammad.
|
Abu Sufan
:
|
Ya, memang benar perkataan Tuan.
Wahai, orang-orang Quraisy. Sudah tiba saatnya kepada kalian untuk membantu
orang yang meminta pertolongan kepada kalian.
|
Musyrik IV :
|
Sungguh benar Anda, hai Abu
Sufyan. Oleh karena itu umumkanlah kepada rakyat kita untuk mempersiapkan
diri dengan alat persenjataannya.
|
Abu Sufyan
|
Ya baiklah demi Tuhan Ka’bah.
|
Huyay
:
|
Wahai Abu Sufyan, kami akan
mengajak lagi beberapa kabilah Arab untuk mendampingi kalian, sampai kalian
mengalahkan si Muhammad.
|
Abu Sufyan :
|
Kalau demikian akan berkumpul di
pihak kita tentara yang tidak mungkin diimbangi Muhammaad. Dia akan kalah dan
akan musnah tanpa bekas.
|
Huyay
:
|
Sebenarnyalah ini yang saya
inginkan dan harap-harapkan, semoga berhasil. Walaupun demikian
kebijakasanaan pada orang-orang aQuraisy. Semangat para pemuda dan rasa
bertanggung jawabnya terhadap kelangsungan agama nenek moyang mereka.
|
Musyrik
:
|
Demi Tuhan Ka’bah, sungguh
benar demikian. Kita benar-benar menanti hari seperti ini.
|
Abu Sufyan :
|
Marilah kita mempersiapkan
perbekalan dan alat persenjataan.
|
Musyrik
I :
|
Sungguh tepat. Si Muhammad
tidak akan lolos dari tangan kita untuk selama-lamanya.
|
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah kita pahami isi dari
pembahasan diatas dapat kita simpulkan bahwa dalam pembelajaran sangat di
butuhkan metode supaya berjalannya sebuah pembelajaran dengan lancar. Pada
makalah ini hanya di sebutkan tentang metode simulasi,yaitu peniruan atau
perbuatan yang bersifat menirukan suatu peristiwa seolah-olah seperti peristiwa
yang sebenarnya, atau dapat dikatakan dengan akting. Salah satu tujuannya
adalah Melatih keterampilan tertentu baik bersifat profesional maupun bagi
kehidupan sehari-hari.
Oleh sebab itu metode ini tentu
memiliki karakteristik tersendiri dan dapat digunakan untuk bidang-bidang studi
tertentu. Dalam pelaksanaannya diperlukan perencanaan dan peralatan yang
memadai dan yang tidak klaha penting adalah diperlukan kemmapuan guru sebagai sutradara
dalam menetapakan, mengarahkan, dan menilai pelaksanaan simulasi. Agar metode
yang digunakan benar-benar dapat mempengaruhi kehidupan peserta didik.
Dalam mata pelajaran Pendidikan
Agama Islam, metode ini bisa digunakan untuk bidang-bidang seperti sejarah dan
pendidikan akhlak. Peserta didik diharapkan mampu menirukan peristiwa sejarah
atau perilaku keagamaan yang diharapkan dapat dicontoh atau diteladani oleh
peserta didik dalam kehidupan, atau bisa juga perilaku atau peran-peran yang
harus dihindari oleh peserta didik dalam kehidupan agar peserta didik memiliki
kemampuan mengamalkan perintah agama dan menjauhi larangan.
DAFTAR
PUSTAKA
Armai Arief, Pengantar Ilmu dan
Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Press. 2002)
Desy Anwar, Kamus Lengkap Bahasa
Indonesia, (Surabaya: Amelia. 2003)
Echols dan Shadily, Kamus Bahasa
Inggris-Indonesia, Jakarta: Pustaka Amani, 2007)
Ramayulis, Metodologi
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2012
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zein,
Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta. 2006)
Abu Ahmadi (et, al), Strategi
Belajar Mengajar, (Bandung: CV Pustaka setia, 2005)
Udin Syaefudin Sa’ud ,
Perencanaan Pendidikan Pendekatan Komprehensif (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya,2005)
Anitah, Sri, W, dkk
, Strategi Pembelajaran di SD, ( Jakarta: Universitas Terbuka.,
2007)
Dahlan, M.D, Model-model
mengajar, Bandung: CV. Diponegoro, 1984)
Munif Chatib, Gurunya Manusia;
Menjadikan semua Anak Istimewa dan semua anak juara, cet VIII, (Bandung:
kaifa, 2012)
Muhammad Abdul Qadir Ahmad, Metodologi
Pengajaran agama Islam, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008)
Anissatul Mufarrokah, Strategi
Belajar Mengajar, (Yogyakarta: Teras, 2009)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar